Sejumlah penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa yang paling mampu menyembuhkan sakit kita adalah diri kita sendiri (self cure atau self healing). Dan, tahukah Anda bahwa yang paling membantu proses penyebuhan tersebut adalah pikiran kita. Ya pikiran. Sesungguhnya, pikiran itu bisa menimbulkan efek berlainan pada kesehatan tubuh. Pikiran yang tidak dikelola dengan baik bisa mengakibatkan kita jatuh sakit.
Ketika kita stres karena didera aneka masalah dalam hidup misalnya, tubuh akan memproduksi sejumlah hormon, seperti enkefalin, kortisol, dan sebagainya. Zat-zat kimiawi itu akan menghambat dan menghancurkan sel-sel imun (sejenis bala tentara dalam tubuh yang bertugas menyerang berbagai penyakit dalam tubuh, sering disebut juga sistem pertahanan atau sistem kekebalan) dalam tubuh kita. Sebaliknya, pikiran yang dikelola dengan baik, pikiran yang bersih dari virus-virus kotor semacam iri dengki, dendam, kesombongan, putus asa, dan sebagainya, akan dapat membantu proses penyembuhan beragam penyakit dalam tubuh kita. Adapun cara menumbuhkan pikiran positif tersebut salah satunya adalah melalui doa yang dilakukan dengan khusyuk dan benar.
Jika kita analisis lebih dalam, proses penyembuhannya semua penyakit—termasuk penyakit degeneratif (penyakit kemunduran)—sangat dipengaruhi oleh faktor penerimaan secara psikologis dari orang yang mengalaminya. Apabila seseorang tidak terlalu memikirnya penyakit yang dideritanya, tidak cemas, berputuas asa, menyalahkan Allah dan orang lain, sistem kekebalan tubuhnya akan lebih terkendali. Maka, jangan heran apabila ada orang yang bisa bertahan lama padahal dia mengidap penyakit ganas.
Ada seorang yang mengidap lupus sejak muda misalnya, akan tetapi dia dapat bertahan dan meninggal pada usia 68 tahun. Itu berarti dia bisa bertahan lebih lama dari vonis dokter. Sebaliknya, ada penderita lupus yang diperkirakan hanya bisa bertahan selama enam bulan, pada kenyataannya dia meninggal dalam waktu tiga bulan. Dia meninggal tiga bulan lebih cepat karena telah kehilangan semangat hidup.
Setiap penyakit, apa pun itu namanya, hanyalah sebuah ujian yang harus disikapi secara bijak dan positif tanpa meninggalkan ikhtiar untuk melakukan proses penyembuhan. Artinya, seseorang jangan sampai melakukan hal yang dapat memicu atau mempercepat datangnya penyakit. Seseorang pun dapat mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang menenangkan dan menyenangkan, seperti mendirikan yayasan amal, mengikuti pengajian, memperkuat ibadah dan doa, menyayangi dan menolong sesama, memelihara binatang, berkebun, dan sebagainya. Itu semua termasuk hal yang menenangkan dan menggembirakan. Melalui aneka kegiatan tersebut, seseorang memiliki kesempatan untuk berbagi.
Biasanya, satu penyakit kronis yang membutuhkan waktu panjang dalam proses penyembuhannya, menguras segala yang ada, baik mental maupun finansial, bisa memberikan satu restart bagi seseorang. Dia akan termotivasi untuk mengulang, memaknai hidup baru, dan menjawab pertanyaan akan dibawa ke mana sebenarnya hidup ini? Dalam bahasanya para psikolog, proses tersebut disebut by learning operant atau diberi masukan dalam proses belajar. Dalam proses belajar ini, seseorang biasanya akan melalui tiga tahapan psikologis dalam dirinya, yaitu:
Pertama, rejeksi yaitu menolak kenyataan yang harus diterima. “Saya tampan, pintar, tekun beribadah, tapi mengapa mendapatkan cobaan seperti ini?” Semakin kuat penolakannya terhadap keadaan yang seharusnya diterima, sakitnya akan semakin parah, baik secara fisik maupun psikis. Kadar hormon kortisol dalam tubuhnya akan semakin tinggi, sehingga sistem hormon tubuh pun menjadi kacau balau.
Kedua, adaptasi. Tahap ini muncul ketika seseorang mulai menerima kenyataan. Dia mulai berpikir, “Saya sudah sakit. Mau menerima atau tidak, tetap sakit. Maka hanya satu pilihan, mensyukuri kondisi ini apa adanya dan bersabar menghadapinya.” Dia kemudian bertekad untuk terus bertahan dan berjuang mengatasi penyakitnya.
Ketiga, optimasi. Fase seseorang yang sudah mampu mensyukuri nikmat. Ada banyak orang yang terkena penyakit berat semacam lupus dan kanker, kemudian dia bersyukur dengan penyakitnya tersebut. Dengan hadirnya penyakit itu, dia memiliki banyak sahabat, punya yayasan untuk sesama penderita, semakin dekat dengan keluarga, dan keyakinannya akan pertolongan Allah SWT semakin kuat. Dia menyadari bahwa setiap doa yang dipanjatkan akan mengangkat derajatnya, setiap rasa sakit yang menghujam organ-organ tubuhnya akan menggugurkan setiap dosa dan kesalahannya. Inilah bentuk dari optimasi potensi dari apa yang dia miliki.
Pada akhirnya, penyakit yang diderita seseorang bukanlah sebentuk ketidakadilan Allah SWT. Sakit adalah sebuah jalan bagi seseorang untuk mengenal diri dan Tuhannya sehingga dia bisa mengoptimalkan segala sumber daya yang dimilikinya. (Tauhid Nur Azhar)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Pikiran-dan-Penyembuhan

Posting Komentar