Tahukah Anda bahwa tepat di tengah-tengah kepala kita terdapat sebuah pabrik yang memproduksi kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kecemasan? Termasuk juga rasa kasih sayang, cinta, kekecewaan, serta kebencian? Pabrik itu disebut “sistem limbik”. Sebuah sistem otak yang menyatukan kepekaan rasa, pengolahan memori, pengendalian emosi, dan mengatur pola belajar seorang manusia.
Berbekal sistem ini, kita mampu menyimpan berjuta kenangan indah dan kelak akan menjadi acuan kita untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT. Melalui sistem ini pula, kita belajar hal-hal yang menyedihkan, mengecewakan dan menimbulkan kesengsaraan, sehingga kita dapat mengembangkan mekanisme untuk menghindarinya, dan dengan cerdas mengubah potensi kesulitan menjadi peluang kebaikan.
Singkat kata, sistem limbik memberi napas, warna, dan suasana hidup kita. Inilah saluran komunikasi utama yang menghubungkan pikiran dan emosi dengan molekul pembawa yang dilepaskan ke dalam cairan saraf, dan melewati sistem peredaran darah ke seluruh tubuh. Pada tataran inilah, emosi positif membangkitkan perubahan fungsi tubuh yang berdampak besar bagi kesehatan kita.
Dilihat dari sudut pandang psikobiologi, hampir semua ibadah yang kita lakukan akan mengoptimalkan kinerja semua komponen otak. Kita tahu bahwa otak adalah pusat pengendali kehidupan manusia. Optimalnya kinerja otak, akan berdampak pada optimalisasi aktivitas kehidupan kita. Sebaliknya, error otak kita, akan error pula kehidupan kita.
* * *
Kita dapat mengambil “sampel” berupa doa. Setidaknya, ada tiga mekanisme yang ditimbulkan oleh doa, yaitu: (1) doa memunculkan dampak relaksasi; (2) doa memancarkan emosi positif; dan (3) doa membuka “campur tangan” Allah SWT sehingga terbuka beragam solusi.
Relaksasi di sini adalah ketika seseorang berdoa, orang itu melepaskan ketegangan akibat pekerjaan atau aktivitas lain seperti beristirahat, melakukan penyegaran jiwa dan raga. Ilmuwan menggolongkan berdoa sebagai bentuk meditasi atau kegiatan pertapaan, yang mana seseorang keluar dari batas inderawi. Dalam konteks ajaran Islam, aktivitas ibadah harian, khususnya salat fardhu dan sunnat yang dilakukan secara khusyuk, merupakan kegiatan meditasi tertinggi. Ketika itu, terjadi perubahan pada kerja atau fungsi organ tubuh seperti pernapasan yang melambat, penurunan laju detak jantung, penurunan tekanan darah, penghangatan bagian luar tubuh, aktivitas gelombang otak yang lebih lambat, dan keadaan metabolisme yang rendah. Selain itu, muncul perasaan ruhiyah yang lebih, kepuasan jiwa dan fisiologis, rasa damai dan tenang.
Proses doa pun akan memancarkan emosi positif. Artinya, doa yang khusyuk akan menimbulkan dampak lebih baik dan positif dalam jiwa, pemikiran, persepsi, daya ingat, niat, kehendak, dan semacamnya. Doa memperbaiki keadaan jiwa dan emosi, serta membawa kepada keadaan tenang yang kemudian memancar ke segala sisi kehidupan bagi orang tersebut.
Kondisi ini, pada akhirnya, akan menimbulkan mekanisme ketiga, yaitu terbukanya pintu pertolongan Allah dengan ditemukannya berbagai solusi dan keajaiban dalam hidup. Ini dapat terjadi karena semua komponen hormon otak (neuroendokrin) akan teraktivasi secara optimal. Nah, optimasi ini akan terjadi apabila doa memiliki sebuah tujuan yang “tidak berbatas” dan “bebas kepentingan”. Tujuan yang tidak berbatas dan faktor bebas kepentingan akan menghasilkan fenomena cinta.
Doa dengan demikian adalah sebuah ekspresi cinta. Hormon otak yang akan teroptimalisasikan fungsinya adalah oksitosin, vasopresin, melatonin, endorfin, serotonin, dopamin, dan epinefrin. Meskipun beberapa di antara mereka bersifat saling berlawanan, akan tetapi ketika proses doa berjalan sukses, mereka akan menempati posisinya secara ideal. Kondisi hormonal yang optimal akan merangsang optimasi hubungan antara sel-sel otak dan mengoptimalkan pula intensitas data yang diubah menjadi biolistrik. Penguatan data berlangsung di area yang disebut sebagai saltatory conduction atau suatu daerah di axon yang bebas mielin. Daerah ini memiliki “kekosongan” yang memungkinkan elektron “melompat”. Kondisi ini akan mengarahkan pikiran untuk terfokus pada solusi. Semakin intens seorang berdoa, akan semakin lebar pula gerbang solusi dibukakan baginya.
Untuk mencapai kondisi tersebut, jalur-jalur pengganggu yang dapat mendistorsi data yang akan diolah oleh kulit otak harus diminimalisasi. Jalur pengganggu yang potensial dapat timbul dari terlalu terbukanya jalur limbik dan batang otak. Sebuah proses doa yang benar akan membuka katup limbik dan batang otak secara terbatas, mengatur jalur transmisi sensoris dari talamus juga secara terbatas, dan akhirnya mengakumulasi semuanya dengan intensitas tinggi gap junction(hyperneuron) dan saltatory conduction untuk menghasilkan sebuah gelombang kekuatan mental yang mutlak bertujuan untuk mendapatkan solusi cerdas.
Oleh karena itu, seorang “pendoa” pandangannya akan menjadi jernih karena apa yang ingin dia lihat terfiltrasi (tersaring) oleh ketulusan. Apa yang ingin dia dengar semuanya mendatangkan kesejukan dan ketenangan karena data yang masuk terseleksi oleh keikhlasan. Pada gilirannya, keputusan mental yang akan diambil adalah keputusan terbaik yang dapat dilakukan.
* * *
Jadi, apakah berdoa harus selalu menundukkan wajah dan mengembangkan telapak tangan? Tidak, dalam sudut pandang ini, business prayer justru harus dilakukan dengan mata menatap layar laptop, telinga mendengarkan headset wireless, dan mulut yang sibuk bernegosiasi dengan calon konsumen atau klien. Selama semua aktivitas itu terfokus pada satu tujuan yang tak “berbatas” dan tak sekadar “berkepentingan” sesaat, maka setiap detik di dalam prosesnya adalah kebahagiaan dan cinta. Dengan demikian, setiap aktifitas kita adalah doa. Jangan luangkan waktu Anda untuk berdoa, bahkan jangan pernah menciptakan waktu luang karena semua aktivitas mengisi waktu adalah doa.
Berbisnis dengan tujuan meraih kebahagiaan dan merasakan indahnya tak terbebani kepentingan akan membuka pintu limbik dan batang otak sewajarnya, serta memungkinkan kulit otak melakukan analisis yang luar biasa dengan data yang telah terfiltrasi sempurna. Perlakukan bisnis dan semua urusan kita as a prayer; sebagai sebuah doa, sebagai perwujudan ibadah! Jadi, doa hakiki adalah doa yang bersifat aplikasi, instrumen hidup yang ditandai dengan ketulusan, kerja keras, dan keikhlasan dalam menyikapi apa pun hasilnya (applied prayer). (Tauhid Nur Azhar)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Doa-dan-Optimalisasi-Hidup-Manusia

Posting Komentar